وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).


You are viewing 3 posts for August 2011 in the category artikel by the author MangSi Pelangi New York City

Daur Ulang Sampah (bagian kedua)

Pada tulisan pertama, diumpamakan kalau ada seseorang atau sebuah badan usaha memulai dengan meminta msyarakat untuk mengumpulkan sampah sisa-sisa makanan untuk dimasukkan kekantong plastik dan dijanjikan akan dikumpulkan dengan memberikan imbalan berupa uang tunai atau kupon bahan sembako. Kemungkinan adanya seseorang atau sebuah badan usaha untuk berbuat begitu, sangat tipis. Bahkan mendekati seperti pepatah "pungguk merindukan bulan".

Bagaiman jika kita melakukan jalan yang lebih praktis, lebih mendasar dan lebih gampang dalam melaksanakannya. Marilah kita menerima dengan sungguh-sungguh akan kata-kata:" Tidak akan ada perubahan kepada suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak berusaha untuk mengadakan perubahan".

Marilah kita memulai untuk berusaha mengadakan perubahan dikalangan kita sendiri yaitu diantara tetangga- tetangga se "RT". Seyogianya dibicarakan dan diusulkan dalam pertemuan warga se "RT". Pertama, sepakat bahwa sampah sisa-sisa makanan atau sisa bahan makanan yang terbuang untuk dikumpulkan dimasing-masing rumah dan tidak dibuang sebagai sampah. Sisa-sisa makanan itu dikubur dilahan sekitar rumah, dengan menggali lubang. Setelah penuh lubang itu ditutup dengan tanah dan diratakan. Kemudian menggali lubang lainnya dan diisi dengan sisa-sisa makanan. Demikian seterusnya. Setiap lubang yang sudah ditutup setiap hari disirami dengan air. Air bekas mencuci makanan, atau air bekas mencuci beras.

Untuk mendapatkan tempat penanaman cabe merah yang lebih banyak, dapat saja ditanam didalam pot dengan memakai tanah yang diambil dari lubang galian sampah itu. Pot dapat dibeli melalui Koperasi. Pembelian pot dengan jumlah besar akan menurunkan harga. Setelah waktu tertentu, 3 bulan kemudian misalnya, seluruh warga RT berembug untuk mengumpulkan dana untuk membeli benih cabe merah. Benih cabe merah dibagikan dengan rata kepada setiap warga yang telah melakukan pembuangan sampah sisa makanannya di belakang rumah masing-masing. Setiap warga menanam benih cabe merah itu disekitar rumahnya.

Dibentuk "Koperasi" untuk menangani pengumpulan cabe merah nanti kalau sudah waktunya dipetik dan juga untuk usaha memasarkannya. Setiap warga menyerahkan hasil panennya, setelah diambil untuk keperluan sendiri, kepada "Koperasi". Hasil penjualan dibagikan kepada para warga berdasarkan jumlah cabe merah yang diserahkan didasarkan atas berat cabe merah itu. Sebahagian uang yang terkumpul dari hasil penjualan disimpan di "Koperasi". Dana ini untuk pembelian benih cabe atau benih tanaman bumbu dapur lainnya untuk ditanam kelak.

Setelah panen, batang dan daun cabe merah ini dipotong-potong dan di"kubur" dilahan dibelakang rumah, jangan lupa untuk disirami air setiap harinya. Kemudian memulai kembali menanam cabe merah atau menanam tanaman bumbu dapur lainnya. Mengingat harga cabe merah dipasaran, mungkin lebih baik untuk beberapa kali setelah panen menanam cabe merah lagi. Sebelum mencoba menanam dan memasarkan tanaman bumbu dapur lainnya.

Disamping usaha menanam cabe merah, juga diusahakan bersama dalam pengumpulan barang-barang "sampah" lainnya. Botol plastik, botol dari gelas, kaleng dan kertas-kertas serta karton. Juga "sampah" ini dijual ke badan usaha yang mengolah daur ulang "sampah" seperti itu tentu melalui Koperasi. Anggota warga yang tidak bekerja, mungkin pensiunan, diminta untuk menjadi para pekerja usaha "daur ulang" ini. Tentu diberi imbalannya. Disamping mereka akan mendapatkan kesibukan dalam usaha-usaha meluruskan otot-otot juga melatih otak untuk bekerja terus. Usaha untuk berolah-raga yang menghasilkan usaha nyata bagi RT dan lingkungan, seluruh RT bebas sampah. Suatu usaha yang patut dibanggakan.

Mudah-mudahan dimulai dari satu RT/RW akan menjalar ke RT/RW lainnya diseluruh kota. Seluruh kota bersih dari sampah, mengurangi adanya lalat yang nantinya menghasilkan lingkungan yang lebih sehat. Pembuangan sampah dari pasar-pasar tradisionil, seyogianya adalah tanggung jawab Kotapraja. Atau Kotapraja mengkontrakkan usaha pengumpulan dan pengangkutan sampah ini kepada swasta. kalau usaha sampah ini dimaksudkan untuk di"daur ulang" sebaiknya Kotrapraja memberikan kelonggaran dalam perpajakan umpamanya atau memberkan insentip lainnya. Mungkin dengan memberikan modal usaha dengan bunga yang rendah dari BPR.

Kemauan untuk merubah keadaan akan menghasilkan suatu perubahan yang akan menguntungkan para perubah itu sendiri dan menjalarkan usaha perubahan ini kepada kaum lainnya.


MangSi

Tags: koperasi, sampah

Pembuangan Air Hujan dan Air Limbah di NYC (New York City)

Ada dua macam pembuangan air di NYC. Yang satu, setiap jalan termasuk jalan layang, ada tempat pembuangan air hujan. Air hujan langsung masuk saluran air dibawah tanah dan langsung dibuang ke sungai. Di setiap lubang pembuangan itu, dibawah tanah dibangun tempat penampungan air berbentuk empat persegi terbuat dari beton dengan ukuran kira-kira 2 m x 2m x 4 m. Air hujan memenuhi penampungan ini, air yang mengalir dari bibir atas penampungan ini yang disalurkan ke got utama untuk disalurkan ke sungai. Kegunaan penampungan empat persegi dari beton ini adalah untuk menampung kotoran-kotoran terutama pasir atau tanah agar mengendap didasarnya. Dalam waktu-waktu tertentu, melalui lubang diatas penampungan ini, kotoran-kotoran diambil atau dikerok dengan alat khusus berupa "cakar ayam" terbuat dari besi. Cakar ayam ini diturunkan kedalam tempat penampungan dalam keadaan terbuka, kemudian ditarik keatas dalam keadaan tertutup. Dan isinya berupa pasir atau tanah beserta sampah lainnya dibuang di bak truk.

Got pembuangan air hujan dibawah tanah ini berukuran besar. Orang dengan ukuran ketinggian orang bule dapat berjalan tegak dengan leluasa. Dilangit-langit got besar ini terpasang tabung-tabung dari bahan plastik. Tabung-tabung ini berisi kawat-kawat, kawat tilpon, kawat listrik dan kawat-kawat lainnya untuk keperluan komunikasi. Kawat-kawat listrik untuk dipakai penerangan-penerangan lampu jalanan atau lampu-lampu lalu lintas. Di NYC terutama di daerah Manhattan tidak terlihat kawat-kawat apapun yang terpancang diatas permukaan jalanan. Juga got besar itu dilangit-langitnya ada pipa-pipa besi untuk menyalurkan uap panas ke gedung-gedung diatasnya. Uap panas ini adalah uap pembuangan dari uap panas yang dipakai untuk memutarkan turbine-turbine generator listrik (PLTU).

Dalam pembuangan air limbah dari rumah-rumah, got didalam tanah sebagai saluran pembuangan yang dihubungkan dari rumah-rumah ke got ukuran besar yang berada didalam tanah dibawah jalanan beraspal. Air limbah dari rumah-rumah tidak langsung dibuang ke sungai, tetapi disalurkan ke tempat penyulingan air limbah dari rumah. Di tempat penyulingan ini, air kotoran dari rumah-rumah disaring. Airnya setelah penyulingan, baru dibuang ke sungai. Ampasnya diolah berupa pellets. Pellets ini lain tidak adalah pupuk, dimasukkan kedalam karung dan dikirim ke perkebunan jeruk di Florida. Dijual tentunya, pemasukkan extra untuk kas Kotapraja. (Ingat semua "sampah" dapat di -daur ulang kecuali mayat dan bangkai).

Kira-kira sampai 20 tahun yang air limbah dari rumah-rumah dibuang langsung ke sungai. Salah satunya adalah Sungai Hudson sebelah Barat Manhattan. Memang murah dan gampang membuang air kotoran rumah langsuing ke Sungai Hudson ini, tetapi ada kerugiannya. Puluhan tahun berlangsung sepertri ini mempunyai dampak negatip yang besar sekali. Sepanjang Sungai Hudson dari Utara Manhattan sampai ke muaranya tidak terdapat ikan satu pun. Namun setelah dibangun tempat-tempat penyulingan air limbah dari rumah dibeberapa tempat sepanjang Sungai Hudson dalam tempo 3 tahun ikan-ikan bermunculan kembali. Sekarang ini Kotapraja membangun Taman sepanjang Sungai Hudson ini. Penduduk setempat berserta turis dari kota lain dan turis asing banyak berlalu lalang berjalan kaki sepanjang Sungai Hudson ini. Dimana kadang-kadang dapat melihat kapal-Pesiar yang mampu menampung ribuan penumpang singgah dipelabuhan penumpang.

Lain halnya di luar kota NYC, kota-kota kecil sekitar NYC air limbah dari rumah-rumah ditampung ditempat pembuangan yang dibangun dihalaman rumah yang disebut "septic-tank". Airnya meresap kedalam tanah, ampasnya disedot kedalam tanki diatas truk untuk dibawa ketempat pengolahan. Tentunya agar tidak keluar baunya, didalam septic-tank diberi obat chemical, selain agar tidak mengeluarkan bau juga agar isi septic tank itu tetap cair tidak membatu.

Kembali ke NYC, dengan kedatangan kembali ikan-ikan di Sungai Hudson ini, setiap hari libur ribuan penduduk setempat berdiri dipinggir Sungai Hudson siap dengan pancingan-pancingannya. Lumayan membawa pulang seekor dua ekor ikan hasil pancingannya. Investasi yang mahal (billionan dollars) yang dikeluarkan oleh Koptapraja dalam membangun tempat penyulingan air kotor dari rumah-rumah itu, ternyata dapat memberikan kenyataan yang nyata dan berwujud berupa Taman dan tempat rekreasi warganya. Pajak dikenakan kepada setiap warga kota Metropolitan ini dikembalikan kepada warganya berupa tempat rekreasi sebagai usaha meningkatkan kesejahteraan warganya.

Keistimewaan kota New York City ini ialah adanya Taman-taman dengan pohon yang rindang, bunga-bunga warna warni serta tempat bermain anak-anak disertai air mancur dimana anak-anak dapat bermain meneduhkan badan dari panasnya udara dimusim panas. Juga tempat untuk bermain basket ball. Pemeliharaan taman-taman ini adalah tanggung jawab Kotapraja. Dibeberapa tempat, taman ini dipelihara dengan baik oleh warga yang bertempat tinggal sekeliling taman itu. Di Jakarta taman serupa seperti ini dapat saja di bangun, silahkan mampir di http://manggih.multiply.com dengan tag "banjir", ada tulisan mengenai taman seperti ini.

sn081811

Tags: air, banjir, hujan, iwrm, limbah

Daur Ulang Sampah

    • mercy

Kalau kita melihatnya dari segi "Daur Ulang", sebetulnya tidak ada apa yang dinamakan "sampah". Yang perlu dibuang jauh-jauh dengan dikubur atau dibakar hanya mayat dan bangkai. Selainnya dapat di-daur ulang dan dapat di-"uangkan". Kunci utamanya adalah "dapat di-uangkan". Bila masyarakat banyak, berpikir bahwa apa itu yang dinamakan "sampah" dapat diuangkan, mereka tak akan membuangnya begitu saja. Kemudian diberi jalan "bagaimana menguangkan sampah itu". Kalau ada seseorang atau badan usaha yang menyatakan :" masukkan sampah dapur sisa-sisa bahan makanan didalam kantong plastik", nanti akan kami ambil dan diberikan harga sekian rupiah setiap kilonya. Walaupun serupiah sekilo, para ibu-ibu RT akan mikir dua kali untuk membuangnya. Atau mungkin dengan jalan memberikan "kupon" untuk kantong plasrtik yang diambil. Dan setelah kupon terkumpul, si Ibu RT dapat meng-uangkanya di tempat tertentu. Atau mengganti kupon itu dengan bahan sembako.

Tentu disusul dengan, satu kantong hanya botol-botol dari gelas, satu kantong hanya botol plastik, satu kantong hany kaleng-kaleng, dst,dst. Bila ini menjadi kenyataan, apakah kiranya akan ada "sampah" bertumpuk dipasar atau dimana saja diseluruh kota ?

Sampah sisa-sisa makanan diolah untuk dijadikan pupuk, kemudian pupuk ini dijual kepada Ibu-ibu RT disertai benih cabe merah gratis. Dengan perjanjian agar menanam cabe merah ini dibelakang rumahnya. Kalau panen semua hasilnya akan dibeli. Hubungi nomer HP ini. Kalau satu RT semua rumah menanam cabe merah dibelakang rumahnya, bayangkan kalau Kota Bandung sebahagian besar rumah-rumahnya ada kebon cabe dibelakang rumah. Mungkin berkwintal-kwintal hasilnya kalau panen. Tak memerlukan perkebunan yang luas, tak perlu memerlukan peralatannya seperti traktor. Pasaran untuk cabe merah dapatr dijamin selama ada restoran Padang.

Disamping menambah penghasilan Ibu-ibu RT, juga sang Ibu tak perlu membeli keperluan bumbu dapur. Diatur sedemikian rupa bahwa satu RT menanam cabe merah, RT lainnya menanam cengek, RT yang lainnya kencur, RT yang lainnya jahe, RT yang lainnya koneng, bawang, seledri dllnya.

Aalangkah baiknya usaha setiap RT ini dikelola oleh "Koperasi", diketuai oleh Ketua RT.

Mungkin akan timbul persoalan baru. Pasar tradisionil sepi, karena tidak ada Ibu-ibu belanja bumbu dipasar. Atau mungkin Pasar Tradisionil mati. Namun kemungkinan muncul Toko-toko baru yang menjual sayuran,daging dsbnya dengan peralatan modern, seperti lemari pendingin. Lemari-lemari ini disamping disi dengan sayuran dan buah-buahan juga diisi dengan botol-botol miinuman segar. botol-botol minuman rasa jeruk nipis, jeruk ini jeruk itu, minuman jahe, minuman asem, es teler atau "goyobod' ( aya keneh anu ngicalan goyobod, Ncep Wildan?).

Pasar tradisinil mati, tumbuh toko-toko macam ini. Malah mungkin lebih menguntungkan bagi si Ibu RT, tidak perlu pergi jauh-jauh kepasar kalau setiap RT ada toko seperti ini. Disamping timbul usaha-usaha baru untuk memprodusir barang dagangan baru. Minuman rasa buah-buahan akan timbul, kita mempunyai 1001 macam buah-buahan.

==sn081511==

Tags: koperasi, sampah