وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).


You are viewing 1 post with the tag perpustakaan

PNRI di Jakarta, Perpustakaan De Tropisch di Negeri Belanda, Satelit LAPAN dan Program Wamil Kopassus

Usaha ini yang pertama diincar adalah para akadimisi yang ingin menuntut ilmu belajar utk S3. Dengan demikian tidak perlu belajar keluar negeri menunggu mendapatkan bea siswa. Dan mudah-mudahan akan menambah para peminat utk S2 atau S3 dengan belajar tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga. Terutama para akademisi yang ingin belajar mengenai sejarah negara ini, sebelum Perang Kemerdekaan. Atau mungkin ada kertas kerja para mahasiswa sebelum perang dunia kedua mengenai usaha-usaha untuk me"modern"-kan jajahannya, yang terputus karena perang. - MangSi, http://on.fb.me/xlvQGE


Perpustakaan Nasional di Jakarta, Perpustakaan De Tropisch di Negeri Belanda, Satelit LAPAN dan Program Wamil Kopassus.

Setahun dua tahun yang lalu LAPAN meluncurkan satelit ke angkasa luar. Kemudian di Jakarta ada Perpustakaan Nasional. Dengan memakai nama Nasional, apakah Perpustakaan ini menyimpan buku-buku hasil karangan bangsa sendiri atau kata Nasional itu dapat diartikan bahwa buku-buku yang disimpan disana dapat dibaca oleh semua penduduk di seantero Nusantara ?

Mungkin ada yang menjawab, mana mungkin pembaca dari Morotai, Halmahera jalan-jalan ke Jakarta hanya untuk membaca buku. Bagaimana kalau buku-buku itu datang sendiri ke para peminat di seluruh Nusantara ? Mungkin melalui Pos ?

Mungkin ada yang menjawab, risiko terlalu besar, akan kemungkinan hilang dalam perjalanan. Juga waktu pengiriman yang lama dan ongkos yang tinggi.

Bolehlah, jawaban ini masuk akal.

Dijaman sekarang ini dimana HP dipakai secara luas oleh masyarakat, juga pemakaian IPads serta LapTop, apa kiranya Satelit LAPAN dapat dimanfaatkan ? Mungkin ada yang menjawab, tentu bisa namun koleksi buku di Perpustakaan Nasional ini tidak cukup banyak, perlu penambahan buku-buku. Buku-buku baru yang diterbitkan belum banyak.

Bolehlah, jawaban yang masuk akal juga.

Bagaiman kalau dijajagi kerja-sama dengan Perpustakaan di Luar Negeri ? Mungkin jawabannya ialah, bisa saja tetapi perlu diterjemahkan dahulu. Juga banyak buku-buku terbitan asing kurang cocok atau tidak banyak yang menceriterakan keadaan negeri ini. Jadi kegunaannya kurang bagi para pembaca. Contoh, buku-buku terbitan Amerika Serikat, umpamanya, banyak buku-buku yang diterbitkan adalah mengenai keadaan atau hal-hal yang berurusan dengan negaranya itu sendiri. Nah buat apa para pembaca di Indonesia belajar dan memahami "kedatangan para imigrant dari Inggris yang mendarat di Plymouth Rock di Pantai Timur Amerika Utara" ?

Bagaimana kalau kerja-sama dengan Perpustakaan di Luar Negeri itu dibatasi hanya kerja-sama dengan Perpustakaan yang berada di Negeri Belanda. Perpustakaan De Tropisch atau Perpustakaan di Universitas Delft, umpamanya. Tentunya banyak buku-buku mengenai Indonesia disimpan dikedua perpustakaan ini. Tak perlu diragukan lagi, yenyunya termasuk kertas-kertas kerja atau mungkin skripsi para mahasiswa Belanda yang ada hubungannya dengan Indonesia.

Mungkin bisa saja, namun untuk menterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia merupakan pekerjaan yang besar sekali dan memerlukan waktu yang lama. Kemudian dicetak serta menerbitkan buku baru itu merupakan tugas yang sangat besar, boleh dibilang tugas raksasa.

Kita tidak perlu menerbitkannya berupa buku, cukup dengan CD saja. Jadi dengan demikian tugas raksasa ini kita kerdilkan. Bagaimana usaha menterjemahkan buku-buku di kedua Perpustakaan itu yang mana jumlahnya puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu itu ?

Memang tidak mudah dan jelas akan memerlukan waktu yang lama. Bagaimana kalau seandainya Pemerintah Indonesia mengumpulkan para Lansia, para pensiunan yang fasih berbahasa Belanda dan mengirimkannya ke Negeri Belanda untuk membaca buku-buku itu dan menterjemahkannya serta disimpan dalam memory chips, di LapTop misalnya.

Demikian juga, dicari bangsa Belanda yang fasih berbahasa Indonesia untuk ikut menterjemahkan buku-buku di kedua Perpustakaan itu kedalam bahasa Indonesia.

Kemudian secara berangsur, dikirim ke Perpustakaan Nasional di Jakarta dan disimpan dalam "satu memory chip" dengan kapasitas yang besar dan dapat diakses melalui internet. Nah disinilah Satelit LAPAN akan mempunyai peran yang sangat besar. Terutama dalam pengiriman "data-data" keseluruh pelosok Indonesia, sampai ke tempat-tempat terpencilpun. Ingat tulisan KOPASSUS, usaha menyebarkan keseluruh pelosok di tanah air dapat dilaksanakan dengan program WAMIL KOPASSUS.

Didesa-desa terpencil, Balaidesa-nya, dipagi hari dijadikan sebagai ruangan kelas elektronik, dilengkapi dengan layar TV dan peralatan penerimaan data-data melalui satelit. Tenaga listriknya dapat dipakai Solar Panel, Tenaga Angin atau mini-hydro-electric. Sore hari ruangan kelas itu dipakai sebagai tempat belajar orang-orang dewasa dengan bahan pelajaran praktis dalam bidang pertukangan, pertanian dan lain-lainnya. Pada malam hari rungan kelas disulap sebagai ruangan hiburan bagi masyarakat desa itu untuk menyaksikan berita-berita atau menonton hiburan lainnya. Atau pada malam-malam tertentu diadakan pembacaan buku-buku dari Perpustakaan Nasional terutama mengenai sejarah Nasional. Sebagai staff pengajar,Kemenetrian Pendidikan Nasional memberikan tenaga-tenaganya.

Jadi formula....Perpustakaan Nasional + Perpustakaan De Tropisch dan Perpustakaan Universitas Delft + Satelit LAPAN + Wamil Kopassus dapat menghasilkan usaha mulia dalam meningkatkan taraf hidup penduduk terutama di permukiman terpencil untuk ikut menikmati kemerdekaan negara ini. Usaha ini bukan usaha yang muluk dan juga bukan usaha mercu suar, usaha ini dapat dilaksanakan dalam waktu dekat untuk dijadikan sebagai usaha nyata. Usaha ini akan jauh lebih murah ongkosnya daripada membangun Jembatan Selat Sunda atau ongkos pembuatan Jembatan Kartanegara dan ongkos pembuatan ulang jembatan yang ambruk ini.

Mudah-mudahan "lamunan" ini dapat menjadi kenyataan dalam waktu dekat.

MangSi - 11012012